Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Januari 2017

Mayat Berjalan, Tradisi Ma’nene


Berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menghormati leluhurnya.Terkadang, prosesi itu terbilang unik, seperti di Kabupaten Toraja UtaraSulawesi Selatan.
Setiap tiga tahun sekali masyarakat yang bermukim di sekitar pegunungan Sesean, menggelar prosesi adat mengganti pakaian jasad leluhurnya yang disemayamkan di dalam peti tempat pekuburan Patane.Prosesi adat ini disebut Ma'nene.

Ritual Ma'nene atau mengganti pakaian mayat sebutan masyarakat Toraja, diawali dengan berkunjung ke lokasi pekuburan leluhur mereka yang dinamakan Patane di Desa atau Lembang Paton, Kecamatan Sariale. Di Patene, mayat moyang (leluhur) mereka yang telah berumur ratusan tahun tersimpan dalam keadaan utuh, karena sebelumnya diberi bahan pengawet.
Prosesi Ma'nene dilakukan pihak keluarga dengan membersihkan mayat leluhur yang telah berusia ratusan tahun, dengan melepas pakaian lama yang digunakan.



Lalu seluruh badan mayat dibersihkan dengan menggunakan kuwas.Setelah itu, jenazah tersebut kemudian dipakaikan dengan pakaian baru.Bagi mayat pria memakai jas lengkap dengan stelan dasi hingga kaca mata.

Sebelum membuka pintu kuburan Patane dan mengangkat peti mayat untuk di bersihkan, tetua adat dengan sebutan Ne' Tomina Lumba, terlebih dahulu membacakan doa dalam Bahasa Toraja kuno, memohon izin kepada leluhur agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan setiap musim tanam hingga panen berlimpah.

Ne'tomina merupakan gelar adat yang diberikan kepada tetua kampung, dimana artinya adalah orang yang dituakan juga imam atau pendeta.Pieter Rayub, tokoh masyarakat Lembang Poton yang juga keluarga pelaksana ritual Ma'nene menuturkan, prosesi adat Ma' nene sudah berlangsung sejak zaman dahulu.Waktu pelaksanaannya berdasarkan kesepakatan bersama keluaarga dan tetua adat melalui musyawarah desa.

Ritual ini disepakati digelar tiga tahun sekali. Tujuannya agar keluarga yang berada di perantauan bisa datang menjenguk orang tua atau Nene To'dolo (moyang mereka), juga untuk mempererat hubungan tali silaturahim orang perantauan dengan orang tua yang masih hidup atau yang sudah meninggal agar lebih mengingat kampung halamannya.




"Prosesi adat Ma'nene kami gelar dalam tiga tahun sekali berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah Lembang. Selain itu, kegiatan ini bertujuan mempererat tali silaturahmi keluarga yang berada jauh di perantauan," ungkap Piter Rayub, saat mengelar prosesi adat Ma'nene.

Menurutnya, Ma'nene digelar sebelum musim tanam dimulai atau sesudah memotong padi, yang hasil panennya digunakan dalam prosesi tersebut.Prosesi mengganti pakaian satu mayat tidaklah lama, hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit.

Usai mengganti pakaian mayat leluhur, masyarakat kampung di Lembang Poton kemudian berkumpul mengikuti acara makan bersama.Makanan yang disajikan adalah hasil sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan prosesi adat Ma'nene.
Usai makan bersama, acara dilanjut dengan tradisi Sisemmba', bertujuan menjalin keakraban serta silaturahmi antara keluarga perantau dengan yang berada di kampung halaman.

Sumber foto:

Minggu, 22 Januari 2017

Pesona Suku Indonesia Bermata Biru di Siompu yang Mulai Punah


Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari gugusan kepulauan. Jika dihitung, pulau di Indonesia jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Beberapa pulau di Indonesia ini sudah dihuni oleh manusia, sedangkan yang lainnya ada yang sama sekali belum terjamah.
Selain memiliki banyak pulau, penduduk Indonesia juga terdiri dari beragam suku. Suku-suku ini memiliki perbedaan bahasa dan budaya sesuai dengan tempat tinggal mereka. Namun kalau dilihat dari segi fisik, penduduk Indonesia memiliki ciri yang umum, yaitu tubuh kecil, rambut hitam, kulit sawo matang, dan iris mata berwarna hitam atau coklat.
Namun, pada tahun 2016 ini ada sebuah penemuan mengejutkan mengenai rumpun bangsa Indonesia. Di sebuah desa di Sulawesi Tenggara terdapat penduduk yang memiliki ciri fisik berbeda dengan orang Indonesia pada umumnya. Mereka lebih mirip dengan rumpun kaukasian eropa, yaitu memiliki iris mata berwarna biru.

Suku Indonesia Bermata Biru di Desa Siompu

Keberadaan suku Indonesia bermata biru ini terkuak oleh seorang peneliti bernama La Ode Yusrie. Ia yang sejatinya akan meneliti tentang benteng-benteng di Siompu berubah haluan ketika mendengar kabar adanya suku Indonesia yang bermata biru dari seorang pedagang. Awalnya ia menganggap berita tersebut hoax, tapi rasa penasaran menuntunnya hingga sampai di Desa Kaimbulawa yang jauh dari Kecamatan Siompu Timur.

Lelaki bermata biru di Siompu [image source]
Lelaki bermata biru di Siompu [image source]
Di sana ia bertemu dengan Dala, salah seorang warga Desa Kaimbulawa yang memiliki iris mata berwarna biru. Yusrie sempat bercakap-cakap dengan Dala, tapi dari gerak-geriknya lelaki yang berprofesi seperti guru itu seperti menjaga jarak. Tak hanya bertemu dengan Dala, Yusrie juga bertemu dengan Ariska Dala yang juga memiliki iris mata berwarna biru. Gadis tersebut mewarisi iris mata biru dari ayahnya, Dala.

Warisan Iris Mata Biru dari Portugis


Ariska Dala [image source]
Ariska Dala [image source]
Saat ditanyai lebih lanjut mengenai bagaimana ia mempunyai iris mata biru, Dala mulai bercerita. Dengan ingatannya yang terbatas, ia memaparkan bahwa mata biru miliknya dan Ariska Dala diwarisi dari orang-orang Portugis. Pada abad ke-16, Desa Siompu juga dikuasai oleh Portugis. Mereka berhubungan baik, bahkan orang Portugis diperbolehkan meminang gadis Siompu.
Kemudian pemimpin Portugis menikahi gadis keturunan bangsawan bernama Waindawula. Ia adalah keturunan dari La Laja, bangsawan Wolio. Salah satu keturunannya La Ode Ntaru Lakina Liya (Raja Liya) yang berkuasa pada tahun 1928 memiliki perawakan seperti bangsa Eropa.

Hanya Tinggal Segelintir Pemilik Mata Biru di Siompu


Ras campuran [image source]
Ras campuran [image source]
Menurut Dala, saat ini sudah banyak rumpun bermata biru yang pergi dari Siompu. Mereka banyak yang memilih pindah ke daerah lain, salah satunya Ambon. Di sana hidup beberapa orang Indonesia bermata biru, termasuk kakak Dala, orang yang dianggapnya sangat paham mengenai asal usul rumpun orang Indonesia bermata biru di Siompu.
Desa Kaimbulawa sendiri dihuni oleh sebanyak 20 KK. Namun, hanya 10 orang saja yang memiliki mata biru termasuk Dala dan anaknya. Sisanya hanya memiliki perawakan mirip dengan orang Eropa, berambut pirang dan berkulit putih, tapi tak memiliki iris mata berwarna biru.

Jejak Rumpun Bermata Biru di Indonesia


Pemuda Aceh mirip bule [image source]
Pemuda Aceh mirip bule [image source]
Adanya rumpun bermata biru ini membuktikan bahwa Indonesia kaya akan keanekaragaman masyarakatnya. Sebelum ramai diberitakan rumpun bermata biru di Siompu, di sebuah pedalaman Halmahera juga terdapat suku Lingon yang memiliki ciri-ciri hampir sama dengan penduduk Siompu.
Selain Lingon, di kawasan Lamno Jaya, Aceh juga terdapat masyarakat bermata biru. Mereka juga berbagi kesamaan ciri-ciri ras kaukasoid lainnya, yaitu berkulit putih, tinggi, dan pirang.
Dari beragamnya ciri fisik manusia tersebut, kita bisa belajar satu hal, yaitu perbedaan adalah hal yang menarik. Dengan adanya perbedaan, seharusnya kita dapat saling memahami dan menikmati keindahannya. Bukannya malah saling mencaci dan menebar kebencian. Setuju nggak?

Kamis, 05 Januari 2017

5 Tradisi Unik Asal Indonesia



Bukan Indonesia namanya kalau nggak punya budaya dan tradisi yang kaya. Masing-masing daerah punya kekayaan tersendiri, gunanya untuk menarik para wisatawan atau mempererat kekerabatan masyarakat.
Jika Agan warga asli Indonesia, harusnya tahu dong berbagai macam tradisi yang ada unik yang ada di Indonesia. Atau jangan-jangan tempat tinggal Agan juga punya tradisi yang bisa dibilang unik? Lebih unik dari lima tradisi ini, kah?


1. Festival Ciuman alias Omed-omedan

Tradisi unik pertama datangnya dari Bali. Agan pasti kenal dengan pulau indah yang namanya tersohor sampai luar negeri ini. Menikmati liburan di Bali, Agan pasti bakal ngerasa berada di surga. Namun lain kalau Agan berada di Bali saat hari raya Nyepi.

5 Tradisi Unik Asal Indonesia
Ads by Kiosked


Soalnya di hari raya tersebut, semua obyek wisata tutup. Semua penginapan juga melarang pelanggan keluar. Tapi esoknya, sebagai peringatan tahun baru Saka di Desa Sesetan, Denpasar mengadakan fesitival ciuman yang dilakukan anak muda single dari usia SMP sampai kuliah. Festival ini bertujuan untuk mengakrabkan muda-mudi saat hari raya Saka. 
Enak Banget Bre Ciuman Masal?

2. Adu Betis

Masyarakat Dusun Paroto, Desa Samaelo, Barebbo, Bone, Sulawesi Selatan, juga punya tradisi unik sebagai bentuk rasa syukur usai panen. Tradisi ini sudah dilakukan turun-temurun dan diikuti pemuda-pemuda desa.

5 Tradisi Unik Asal Indonesia
Ads by Kiosked

Para peserta beradu dan saling menendang betis lawan. Tradisi ini memang seringkali membuat kaki para peserta kesakitan, bahkan ada yang keseleo. Namun, mereka tetap bersuka cita sebab hasil panen mereka melimpah.

3.Yadnya Kasada

Agan pasti mengenal indahnya Bromo. Di tempat ini biasanya masyarakat Tengger menggelar tradisi unik yaitu mempersembahkan sesajen pada Sang Hyang Widhi. Tradisi ini digelar setiap bulan Kasada hari-14 dalam penanggalan kalender tradisional Hindu Tengger.


5 Tradisi Unik Asal Indonesia

Sesajen yang disiapkan akan dilemparkan ke kawah gunung Bromo. Namun, sebagian orang sudah mempersiapkan jalan di sekitar bibir kawah, mereka bersiap untuk menangkap sesaji yang dilemparkan.

4. Tapa Bisu Mubeng Beteng

Tradisi ini berasal dari Yogyakarta. Diadakan tiap tanggal satu suro. Dalam tradisi ini, para abdi dalem dan para masyarakat akan berjalan arak-arakan mengelilingi benteng keraton dengan membisu.


5 Tradisi Unik Asal Indonesia

Tradisi ini adalah wujud mawas diri dari segala yang dilakukan selama setahun ini, dan berharap keselamatan dan kesejahteraan di tahun berikutnya. Dalam tradisi ini siapapun boleh ikut serta, dengan syarat tidak mengeluarkan suara selama ritual.

5.Upacara Rambu Solo Toraja
Nah Yang 1 ini gan

Upacara ini berupa mengantar arwah kerabat menuju alam roh. Selagi belum mengadakan upacara Rambu Solo, seseorang belum bisa dibilang mati. Jadi. masih dianggap sakit. Mereka masih diberi makan, diajak bicara bahkan diberi pakaian.

5 Tradisi Unik Asal Indonesia

Upacara yang dilakukan juga meriah, paling tidak sekitar tujuh harian. Mereka juga harus menyiapkan kerbau atau babi untuk dikorbankan. Jumlahnya pun belasan, dengan harga sekitar 20-40 juta perekor. Upacara ini merupakan yang termahal di Indonesia.


[i]Berbagai tradisi di Indonesia memang unik Gan dan tentu saja orang-orang luar negeri nggak bakal nemu tradisi yang ada di Indonesia. Tradisi yang bisa dibilang identitas dari negeri kita.

Sumber

Rabu, 04 Januari 2017

Pertarungan-Pertarungan ala Kesatria yang Dilakukan oleh Suku di Indonesia



Suku-suku yang ada di Indonesia tidak hanya memiliki keunikan dari segi olahan kuliner yang bercitarasa surga. Suku yang terbentang dari ujung timur hingga ke barat ini juga memiliki beberapa tradisi dan kebudayaan yang terkait dengan perang. Suku-suku ini memiliki tradisi bertarung layaknya kesatria untuk keperluan ritual atau pertunjukan.


Pada artikel di bawah ini, kita akan membahas beberapa tradisi pertarungan antara dua orang pria atau kelompok pria untuk keperluan tertentu. Beberapa tradisi dilakukan untuk meminta hujan dan juga keberkahan dari Yang Maha Esa. Berikut jenis-jenis pertarungan ala kesatria yang dilakukan oleh suku-suku di Indonesia.

1. Pasola – Sumba

Pasola adalah pertarungan antara kelompok penunggang kuda yang dilakukan oleh Masyarakat Sumba. Setiap tahun, saat akan musim tanam, beberapa kelompok akan melakukan pertarungan dengan saling melempar lembing kepada penunggang kuda dari kelompok lain. Semakin banyak kelompok lain jatuh atau terluka, kemenangan bisa didapatkan.

Pasola [image source]
Oh ya, makna dari permainan ini bukan perkara menang atau kalah. Masyarakat Sumba yang menganut Marapu menganggap pertarungan ini adalah pengorbanan mereka kepada Tuhan. Jika ada darah yang keluar dan menetes ke tanah, pengorbanan akan diterima dan dalam setahun ke depan panen akan melimpah dan penduduk akan terhindar dari penyakit dan marabahaya.

2. Peresean – Lombok

Peresean adalah sebuah tradisi di Lombok yang dilakukan oleh Suku Sasak sejak puluhan tahun lalu. Awalnya tradisi yang dilakukan dengan menarungkan dua orang pria ini dilaksanakan untuk melatih ketangkasan dalam melawan penjajah Belanda yang menjajah Lombok. Semua pemuda akan dilatih bagaimana bertarung dengan menggunakan kayu menjalin panjang dan sebuah tameng.

Peresean – Lombok [image source]
Karena sudah tidak ada penjajah, tradisi paresean mulai dilakukan untuk penyambutan tamu atau acara budaya untuk mengundang wisatawan. Oh ya, permainan yang seru namun cukup menegangkan ini memiliki lima ronde untuk mengetahui siapa pemenangnya. Namun, kalau di ronde awal ada salah satu sudah berdarah pada bagian kepalanya, dia akan dinyatakan kalah dan lawan memenangkan pertandingan.

3. Perang Pandan – Bali

Perang pandan atau makere-kere adalah sebuah tradisi yang dilakukan setahun sekali di desa Tenganan Bali. Pada bulan lima penanggalan desa, tradisi ini dilakukan dengan mengumpulkan banyak pria di sebuah tanah yang lapang. Dengan iringan gamelan, pertarungan yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra atau dewa perang ini dimulai mulai pukul 2 hingga petang.

Perang Pandan – Bali [image source]
Perang pandan dilakukan dengan menggunakan daun pandan yang berduri sebagai senjata dan tameng sebagai pelindung. Misi dari perang ini adalah memukul atau menggosok tubuh lawan dengan daun pandan yang berduri. Siapa yang sudah tidak bisa lagi bertarung atau terus terdesak akan dinyatakan kalah. Oh ya, hampir semua peserta akan terlupa tubuhnya, tapi tidak ada yang saling marah karena tradisi ini dilakukan untuk kebersamaan.

4. Sijagang Laleng Lipa – Bugis

Berbeda dengan tiga tradisi sebelumnya yang dilakukan untuk keperluan peringatan atau meminta berkah. Tradisi yang dilakukan di bugis ini dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan di antara dua buah keluarga. Jika ada dua keluarga bermusuhan dan jalan mufakat tidak bisa dilakukan, pertarungan yang sengit ini akan dilakukan.

Sijagang Laleng Lipa – Bugis [image source]
Biasanya setiap kelompok yang bersengketa akan mengirim satu petarung akan saling adu kekuatan fisik dan senjata di dalam sarung. Ya, di dalam sebuah sarung kedua orang ini akan bertarung adu kuat. Biasanya pertarungan yang terjadi selalu saja seri. Kalau tidak sama-sama hidup ya sama-sama mati.
Inilah beberapa pertarungan ala kesatria yang dilakukan oleh suku-suku di Indonesia. Terlepas dari apa misi diadakannya pertarungan itu, empat hal di atas cukup menarik untuk dikenal, terlebih dilihat atau terlibat secara langsung.

Selasa, 20 Desember 2016

4 Daerah di Indonesia yang Terkenal dengan Kesaktian Para Dukunnya



Apa yang ada di pikiranmu jika diingatkan tentang Mentawai? Laut membiru dengan gulungan ombak menciptakan buih-buih putih, pohon-pohon nyiur yang menggoyangkan dedaunnya saat menghadapi terpaan angin pantai? Atau hutan belantara yang menjadi rumah hewan serta tumbuhan langka? Ternyata itu belum semuanya, masih ada adat istiadat dan budaya yang begitu khas. Sayangnya, minat untuk melestarikan warisan seperti itu sudah mulai berkurang di kalangan generasi muda. Salah satunya dengan menjadi dukun-dukun adat. Hal yang sama mungkin juga terjadi di daerah lain, perkembangan zaman dan nuansa modern dikhawatirkan akan membuat budaya negeri ini berakhir dalam museum dan buku-buku sejarah.
Zaman dulu, menjadi dukun itu adalah sebuah kehormatan. Mendapat kepercayaan dari masyarakat untuk mengemban tugas sebagai penyembuh, penghubung dengan dunia lain, hingga peramal masa depan adalah kebanggaan tersendiri. Namun saat ini, para muda-mudi justru jadi takut dan merasakan kengerian karena dukun identik dengan ilmu kekuatan magis yang muncul dari penerapan ilmu hitam. Hal itu kadang juga menular ke masyarakat di daerah lain. Jadi nggak heran jika sampai muncul peringatan-peringatan. “Eh, hati-hati lho kalau ke sini itu nggak boleh begini, nggak boleh begitu daripada entar belalainya hilang kan berabe” . Di Indonesia sendiri ada beberapa tempat yang terkenal dengan kesaktian para dukunnya. Langsung saja, simak ulasannya berikut ini.

1. Mentawai

Mentawai [image source]
Mentawai [image source]
Sikerei adalah julukan bagi dukun penyembuh di Mentawai, sebuah tanah surga yang menyimpan sejuta pesona. Saat ini, menemukan Kerei itu susah. Tidak banyak yang mau mengemban tugas tersebut sedangkan di sisi lain, tidak sembarang orang bisa menjadi Kerei. Biasanya, Kerei didatangi oleh orang-orang Mentawai untuk menyembuhkan diri bila diserang berbagai penyakit. Namun kesaktian utamanya justru terletak pada kemampuan komunikasi dengan makhluk ghaib menurut kepercayaan adat Mentawai. Dengan menjaga agar harmoni tercipta antara dunia nyata dan alam ghaib, maka Kerei bisa menciptakan sebuah rasa aman dan nyaman bagi segenap penduduk di kampungnya.

2. Kalimantan

Kalimantan adalah salah satu daratan terbesar di Nusantara yang didiami oleh mayoritas Suku Dayak. Kita semua tahu jika setiap tempat memiliki aturan dan hukuman yang berlaku. Di mana pun kita berada ya harus menjaga sikap baik dan mematuhi aturan tersebut, termasuk jika kamu datang ke wilayah tanah Suku dayak. Mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Selatan. Sudah sejak dulu, kalau orang Dayak itu memiliki kekuatan mistis yang ampuh sekali. Senjata-senjatanya begitu kuat dan dipercaya bisa menghilangkan nyawa hanya dalam sekali libas. Sebut saja Mandau, Penyang dan Sipet.
Kalimantan [image source]
Kalimantan [image source]
Fungsi dari ilmu seperti itu tidak cuma untuk melindungi diri dan wilayah saja, namun ada juga yang katanya bisa mendekatkan jodoh dan rezeki. Terlepas dari kengerian seputar ilmu perdukunan, Tanah Borneo memiliki banyak sekali destinasi wisata. Hutan belantaranya dihuni oleh hewan-hewan langka berparas anggun hingga gahar. Saat kamu mengintip kehidupan bawah laut, terumbu karang dan ikan-ikan kecil akan menyambutmu, keren-keren kan?

3. Banyuwangi

Banyuwangi [image source]
Banyuwangi [image source]
Banyuwangi adalah sebuah kabupaten di ujung Provinsi Jawa Timur berbatasan dengan Pulau Bali. Banyak wisatawan yang berhenti sejenak di daerah asal Tari Gandrung tersebut untuk istirahat di tempat-tempat keren. Jika ingin melihat panorama sunrise ada gunung Ijen. Permainan warna yang eksotis juga terpampang nyata di pantai-pantainya. Namun kamu belum benar-benar mengenal Banyuwangi jika tidak mengintip budaya Suku Osing. Di berbagai sudut masih banyak ditemui budaya-budaya klinik yang identik dengan praktik perdukunan. Bahkan ada yang bilang jika Banyuwangi adalah sarangnya dukun santet. Bukan hanya mengincar nyawa orang-orang yang dianggap menjadi ancaman, tapi juga melancarkan guna-guna untuk menaikkan pamor seseorang.

4. Papua

Papua [image source]
Papua [image source]
Sebuah mahkota yang dipercantik dengan bulu-bulu aneka warna jadi ciri khas penduduk Suku Asmat yang bermukim di pedalaman hutan Papua. Keberadaan mereka sering dianggap sebagai pelindung alam hingga sampai sekarang hutan-hutan di Papua tetap terjaga. Salah satu yang membuat Suku Asmat begitu gahar adalah kemampuan sihir yang digunakan untuk menangkal pihak-pihak yang ingin berbuat kerusakan di tanah moyang mereka. Kesaktian Suku Asmat bahkan dipercaya bisa menggerakkan unsur alam seperti memanggil hujan, hingga mengirim angin topan yang besar. Makanya, kalau ke Papua jangan hanya mengunjungi Raja Ampat saja, mampirlah ke desa-desa wisata Suku Asmat agar lebih tahu tentang kekayaan tradisi bangsa kita.
Itulah beberapa destinasi keren yang terkenal dengan kesaktian dukun-dukunnya. Namun terlepas dari rasa takut dan teror yang ditimbulkan, di mana pun kita berada memang harus bersikap baik bukan?